Perkenalan saya dengan Marwah Daud Ibrahim

p32-marwah.img_assist_custom
Marwah Daud Ibrahim (Sumber : The Jakarta Post)

“Jangan pernah menyalahkan latar berlakang keluarga sebagai alasan untuk tidak maju”. (Marwah Daud Ibrahim)

Kata-kata ini terngiang-ngiang terus dikepala saya semenjak pertama kali saya mendengarnya. Saya berhutang budi pada Bu Marwah Daud Ibrahim, karenanya saya menuliskan pengalaman saya bertemu beliau sekitar 17 tahun yang lalu. Mungkin beliau sudah lupa dengan saya tapi inspirasi dari beliau meluaskan pandangan saya tentang kehidupan, tentang cita-cita dan tentang tak ada yang tak mungkin.

***

1996. Jelang libur, saya tak ingat persis bulannya, tapi bukan libur panjang. Sebuah undangan Pesantren Kilat tiba di sekolah saya. Nama kegiatannya Pesantren Unggulan Terpadu yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Tua Bimbingan Terpadu (Orbit), ICMI. Penggagasnya Marwah Daud Ibrahim dan diselenggarakan di Pesantren Datuk Sulaiman Palopo. Saya yakin semua sekolah di Sulawesi Selatan diundang untuk mengikuti kegiatan tersebut, dan saya berkeyakinan kegiatan ini pasti sangat-sangat bagus, karena itu saya akan mengikutinya. Sebagai ketua Osis, saya mewakili sekolah untuk acara ini.

Palopo adalah Ibukota Kabupaten Luwu (saat itu sebelum pemekaran). Jarak Palopo dan Sidrap (kampung saya) sekitar 3 jam perjalanan darat. Kepada sopir bis yang saya tumpangi, bapak ibu saya berpesan ” paleppangngi kasi’ okko pesantrengnge purana Palopo Kota” (tolong “diturunkan” di Pesantren setelah Kota Palopo).

Sayapun berangkat seorang diri ke pesantren tersebut. Ini akan menjadi pengalaman baru yang menarik. Saya sebenarnya selalu mengalami hambatan psikologis disebuah acara atau tempat yang baru tanpa ada seorangpun yang saya kenal. Tapi untunglah diusia belia, saat masih kelas 5 SD saya sudah diharuskan berbaur dengan orang-orang lain dan orang yang lebih tua ketika mengikuti Jambore Nasional di Cibubur Jakarta Tahun 1991. (Untuk Jambore ini, akan saya cerita sendiri nanti)

Saya tiba di Palopo di siang hari, mendaftar dan bersiap untuk pembukaan esok harinya. Setelah berkenalan dengan para peserta, saya baru sadar sayalah satu-satunya peserta yang tidak berdarah Luwu, sebagian besar peserta adalah dari sekolah di Luwu dan sisanya beberapa SMA dari Makassar yang ternyata orang Palopo juga. Tapi saya tak berkecil hati, mungkin kali ini saya akan menjadi  satu-satunya Remaja luar Palopo yang beruntung mengikuti kegiatan ini.

Acara dibuka oleh Pangdam VII Wirabuana waktu itu, Mayjend Agum Gumelar. Bupati Luwu saat itu adalah Opu Sidik, merupakan senior dari Pak Agum di Akmil. Pak Agum berpidato dengan hebat dan menggugah, untuk pertama kalinya dalam hidup saya melihat langsung orang berpidato dengan intonasi dan pemilihan kata yang baik serta dengan isi yang padat. Kelak orang ini tidak cukup jadi Pangdam, menurut saya.

Acara Pesantren kilat yang diselenggarakan Orbit tersebut menghadirkan pemateri nasional seperti Marwah Daud Ibrahim, Alita Marsyanti dan Hotman Z Arifin. Ada cita-cita besar dari penggagas acara ini untuk menghadirkan harapan bagi para remaja untuk berjuang meraih cita-cita.

Diacara inilah awal “perkenalan” saya dengan Bu Marwah. Selama ini saya hanya melihatnya di TV. Waktu itu, beliau adalah salah satu bintang paling terang di parlemen yang dikuasai Golkar. Kecerdasan memang terpancar dari suaranya yang berat dan susunan kalimatnya yang terstruktur.

Bu Marwah mengajak kami untuk mengeluarkan selembar kertas, membuat kotak berisi tahun dan mengisinya, apa yang akan kami lakukan 5, 10, 20, 30 tahun yang akan datang. Kami diajar untuk merencanakan masa depan. Kelak Bu Marwah mematenkan metode ini dan memberi merek Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan (MHMMD).

Bu Marwah bercerita, dulu waktu beliau baru memulai kuliahnya di Amerika beliau melakukan hal yang serupa. Merancang dan merencanakan apa yang akan dilakukannya hingga kemudian beliau menyelesaikan S3. Saya terkesan dengan cara Bu Marwah menyemangati kami. Beliau selalu bilang “jangan pernah menyalahkan latar belakang keluarga”. Kamu yang terlahir bukan dari keluarga mampu, punya peluang yang sama dengan yang lain untuk meraih masa depan. Saya tak bisa membantahnya, karena beliau memakai contoh dirinya sendiri.

Sejak saat pelatihan itu, saya bertekad untuk merencanakan hidup dengan baik. Menuliskan cita-cita dan merancang hal-hal yang mendukung cita-cita tersebut. Saya kemudian menuliskan lebih dari 50 mimpi yang saya inginkan dalam hidup ini, entah kenapa seperti kata Bu Marwah dengan menuliskan cita-cita, jalan akan terbuka dan banyak hal terduga akan mendukung. Salah satu cita-cita saya dalam list tersebut yang saya tuliskan 10 tahun yang lampau adalah menonton di Stadion Old Trafford, dan ternyata telah terlaksana. Gambaran menulis cita-cita ini kedengaran absurd, tapi kekuatan cita-cita ini juga yang digambarkan dengan indah oleh Paulo Coelho dalam novel the alchemist, yang bahkan angin dan pasirpun akan mendukung kalau kita berani bercita-cita.

Setelah pelatihan di Palopo saya berkirim surat kepada Bu Marwah dengan melampirkan foto saya dengan beliau saat acara berlangsung. Alamat rumahnya di Bintaro memang diberikan kepada para peserta. Namun surat saya tak dibalas.

Hingga suatu kesempatan, sebuah telpon dari kantor bupati berdering disekolah. Saya disuruh ke rumah jabatan bupati sore itu juga, ada pertemuan yang harus saya ikuti, kata guru SMA saya. Ketika tiba di rumah jabatan bupati, saya segera disuruh ke ruang pertemuan. Saya melihat Bu Marwah sedang memberikan ceramah kepada para peserta, yang waktu itu adalah para kader Golkar sekabupaten. Saya melangkah dengan perlahan masuk ke arena. Seorang mentor di Pesantren kilat, Kak Salma, ternyata yang menelpon ke sekolah agar saya dihadirkan ke sana atas permintaan Bu Marwah. Saya melangkah mendekat, Bu Marwah menghentikan ceramahnya dan berkata “Oh, ini Ahmad ya?”

Selesai acara, saya ikut Bu Marwah dan Kak Salma ke rumah salah seorang bekas teman kuliah Bu Marwah di Unhas untuk makan malam. Selesai makan malam, saya diantar oleh Bu Marwah ke rumah saya di Kadidi, beliau akan ke Tellang-tellang waktu itu. Di Mobil, saya diperkenalkan dengan seseorang yang kemudian menjadi presiden salah satu partai terkenal di Indonesia saat ini. “Ini Anis Matta, Alumni Pesantren Gombara’ baru pulang dari Mesir”. Saya tak bisa melupakan “perkenalan” ini.

Setelah saya menjadi peserta di Palopo. Saya kemudian menjadi Panitia untuk acara yang serupa di Makassar, dan kali ini pematerinya lebih mentereng. Acara dibuka secara resmi oleh Ibu Hasry Ainun Habiebie dan dihadiri oleh Gubernur dan para pembesar di Sulsel. Acara tersebut menjadi headline di koran setempat, tidak hanya karena kehadiran Bu Ainun tapi karena mati lampu terjadi saat para penggede tersebut berada di Aula untuk acara pembukaan.

Pada liburan panjang tahun 1997. Orbit menyelenggarakan acara study tour dari Makassar-Surabaya-Yogyakarta-Bandung-Jakarta. Bu Marwah adalah tokoh sentral acara ini, dan dibantu oleh para pelajar di Makassar, Mahasiswa asal Luwu dan Mahasiswa Sinjai. Idenya adalah membawa anak-anak pelajar ini melihat secara langsung Industri-industri strategis seperti PT PAL dan IPTN, Perguruan Tinggi seperti Unair, UGM, Akabri Magelang, dan ITB. Mengunjungi Gedung DPR/MPR, ke media TV dan beramah tamah dengan pemilik ANTV Abu Rizal Bakrie, ramah-tamah ke rumah menteri seperti pak Marie Muhammad, ke kolam ikan pak Haryanto Danutirto di Subang, mengunjugi KH Zainuddin MZ dan mendapat oleh-oleh Salam Mie serta ke Pangkalan Taksi Citra yang dimiliki Ibu Mubah Kahar Muang.

Pengalaman paling mengesankan mengunjungi tempat-tempat tersebut adalah ke gedung DPR/MPR. Waktu itu Pak Harto masih presiden dan Pak Habiebie wakilnya. Pak Harto masih sangat berkuasa, dan kami atas power dari pak Habiebie sebagai ketua ICMI diizinkan untuk masuk ke Ruang Paripurna tempat yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk kunjungan. Kami boleh berfoto ditempat duduk pak Harto menunggu sebelum membacakan laporan pertanggungjawaban dan mencoba-coba podiumnya untuk berfoto. Kata petugas, baru kali ini ada rombongan yang boleh sebebas ini di ruangan ini. Kesan lainnya adalah saat ramah tamah di rumah Pak Marie Muhammad yang sederhana. Waktu itu hujan deras, dan atap rumah pak Marie bocor dengan deras pula, air yang masuk kerumah ditampung dengan ember, dan pak Menteri santai-santai saja. Dari jalan-jalan ini saya juga tahu bahwa para penggede ini adalah orang biasa juga yang berteman dengan banyak orang, dan mereka adalah orang-orang yang membuka diri.

Selama di Jakarta kami homestay di Rumah Bu Marwah di Bintaro. Rumah luas ini berhiaskan buku-buku dimana-mana. Salah satu kamar di lantai atas rumah itu bahkan isinya buku semua. Tak ada hiasan berarti selain rak buku yang tersebar di lantai satu rumahnya. Rumah bu Marwah lebih mirip perpustakaan di banding rumah tempat tinggal. Satu-satunya TV dirumah tersebut tak pernah dinyalakan, beliau memang membatasi diri dan anak-anaknya untuk menonton TV. Dalam tiga hari tinggal dirumahnya kami banyak belajar dan mendapat dorongan dari Bu Marwah. Kata Bu Marwah, kalian sekolah aja di Jerman, biaya sekolah disana gratis, yang dibutuhkan adalah biaya hidup, untuk jaminan hidupnya untuk pembuktian Visa, nanti dari Orbit yang menggaransi, banyak orang/kelompok yang melakukan hal serupa. Sayang, krisis ekonomi yang menghantam Indonesia, meruntuhkan cita-cita ini.

Saat reformasi mulai bergulir, bu Marwah tersisih dari Golkar. Gerbong Pak Habiebie ludes dibabat Akbar Tanjung. Bu Marwah masih punya nama terang waktu itu, beliau menjadi calon Wapres Gusdur pada tahun 2004 yang merupakan calon dari Partai Kebangkitan Bangsa. Angin politik tak berpihak kepada beliau. Tapi hingga saat ini Bu Marwah masih berkeliling Indonesia menebarkan virus optimisme dan mendorong para anak muda bangsa untuk terus optimis dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depannya.

***

Salam dari Edinburgh

Perayaan Tahun Baru 2014 : Hogmanay di Edinburgh

Acara hogmanay atau perayaan tahun baru ala Edinburgh berlangsung meriah. Acaranya riuh dengan banyaknya orang, semarak dan elegan dengan pesta kembang api, dan lucu dengan adanya orang mabuk. Ratusan ribu orang memadati area puncak perayaan hogmanay di sekitar princess street dan edinburgh castle.

Sebelum ke acara street party, saya mengantar teman-teman pelajar Indonesia yang dari Manchester ke Calton Hill. Mereka sebelumnya juga tour sightseeing  ke University of Edinburgh, Greifriar Bobby, Elephant House, Edinburgh Castle dan Central Mosque. Calton hill adalah lokasi paling enak melihat pesta kembang Api di Edinburgh tanpa harus membayar. Tak lama setelah masuk di Calton hill, seseorang berlari meluncur dari atas dan menabrak pundak saya, dia terus berlari kebawah dan ambruk di jalan keluar, Polisi mengelinginya. Belum jam 9 sudah ada yang mabuk dan tepar.

Mc Ewan Hall University of Edinburgh
Manchester Army di Mc Ewan Hall, University of Edinburgh
Calton Hill at New Year Eve- Night
Edinburgh dilihat dari Calton Hill
Calton Hill at New Year Eve- Night
Calton Hill
Fireworks from Calton Hill
Fire Works Jam 20.30 dari Calton Hill

Saya masuk ke lokasi Street Party di Princess Street sekira jam 9. Suasana sudah mulai ramai. Harga tiket masuk princess street £20 Ini mirip kita membayar empat ratus ribu hanya buat masuk ke Jalan Sudirman-Thamrin di malam tahun baru. Begitu masuk, beberapa orang sudah mulai kelihatan mabuk. Sepasang muda mudi berjoget di depan monitor besar, goyangannya menarik beberapa orang, sampai kemudian salah satunya mencoba bersalto, namun tak bisa membalikkan badannya, mencoba berkali-kali dan terjatuh, tangannya tak kuat menahan badannya yang dipenuhi cairan alcohol.

Street Party Hogmanay Edinburgh 2014
Tariiiikkk Mannnng

Suasana Princess Street memang ramai, tapi kelihataannya yang memenuhi jalan adalah para wisatawan, dan bukan warga setempat. Wajah-wajah Asia akrab dijalan, beberapa orang berwajah Eropa yang saya temui di jalanpun adalah orang yang tak tahu nomor bis yang harus ditumpangi, yang bisa saya simpulkan bukan warga Edinburgh. Lebih 70 orang pelajar Indonesia dari seluruh UK ada di Edinburgh juga meskipun tidak berkumpul di satu titik. Para pelajar yang saya temui diantaranya dari Manchester. Lancaster, Glasgow, Liverpool, London dan Birmingham.

Indonesian Student in UK - PPI Edinburgh UK
PPI UK di Edinburgh
Indonesian Student in UK - PPI Edinburgh UK
Pelajar Indonesia tenggelam dalam lautan orang asing
Indonesian Student in UK - PPI Edinburgh UK
Edinburgh dan Glasgow
Indonesian Student in UK - PPI Manchester UK
Another Manchester Army

Warga Edinburgh sendiri nampaknya memilih untuk menghabiskan malam di rumah atau berkumpul bersama keluarga. Memang ada yang berpikir lebih enak tinggal di rumah dan menonton acara kembang api di TV, seperti yang biasa juga saya lakukan kalau di Jakarta. Banyak alasan warga setempat untuk tidak keluar rumah menikmati tahun baru, seperti yang dikutip oleh Media setempat. Berikut adalah “resiko” merayakan tahun baru di jalan yang saya adaptasi dari Metro.co.uk.

Lebih mahal, untuk masuk ke lokasi acara saja harus bayar £20, kalau mau menikmati musik yang lebih enjoy dari grup band terkenal bayar lagi £45,  ditambah lagi bagi yang tidak bisa kalau tidak minum alkohol, pasti harus beli minuman yang harganya juga tidak murah dan jumlahnya tidak sedikit.

Dingin, suhu Edinburgh saat malam pergantian tahun sekitar 6 derajat, tapi feel saya lebih dingin. Pakaian saya sudah berlapis 4 tapi rasanya masih dingin. Untuk menghangatkan diri, kami bergerak dan berbaur dengan orang-orang yang terjebak dalam pusaran dua arah, meski agak stress, tapi ini cara yang efektif untuk mengurangi dingin.

Susah pulang. Segera setelah acara tahun baru selesai, orang-orang akan segera berbondong-bondong menuju jalan pulang. Rebutan bis menjadi hal yang lumrah. Beberapa jalan ditutup, dan kadangkala tak tahu dimana harus menunggu bis karena ternyata bus stop yang ditempati menunggu tidak dilewati oleh bis.

Mabok dan mempermalukan diri sendiri. Ini kejadian yang paling banyak saya temui di pesta tahun baru semalam. Ada yang muntah sembarang tempat dan yang lebih parah lagi, ada yang buang air kecil di tengah jalan, perempuan lagi. Banyak yang terkapar bersandar di pagar pembatas, meracau tak keruan, ada juga yang berjalan dengan menopangkan tangannya di pagar pembatas persis suster ngesot. Yang lainnya lagi, menyapa setiap orang yang lewat dengan ucapan Happy New Year, seribu orang lewat, seribu juga yang disapa dan dijabat tangannya. Ada juga yang memeluk setiap orang yang bisa dijangkaunya. Ada pula yang menggantung di traffic light, nggak jelas apa yang dilakukannya, selain dia memang mabok. Orang mabok kan boleh ngapain aja, hehehe. Banyak yang pasangan muda-mudi yang kayaknya janjian, tidak boleh mabuk dua-duanya. Kalau laki-lakinya yang mabuk beneran, perempuannya gak boleh mabuk-mabuk amat, atau sebaliknya perempuannya yang mabuk, cowoknya yang menenangkan. Seorang cewek sampai harus menyilangkan kakinya didepan cowoknya agar si cowok yang sudah mabuk berat tidak bikin ulah, mungkin saja kalau dia bawa gembok, digemboknya cowoknya itu. Tapi, meskipun mabok, tidak ada kejadian rusuh yang berarti, ada memang yang melempar tapi hanya satu dua orang, secara umum meskipun mabuk mereka tetap happy, piss dan masih bisa bilang sorry, kalau nabrak kita. Sepanjang perjalanan pulang saya hanya bisa tersenyum dan tertawa dengan polah tingkah kawan-kawan kita ini.

Berita utama tahun baru dari Daily Mail hari ini adalah para peminum ini. Di hampir semua lokasi di UK, orang mabuk saat pergantian tahun selalu menjadi masalah, foto-foto para pemabuk ini menghiasi halaman depan situs dailymail dari beberapa lokasi seperti Swansea, Manchester, Newcastle, Birmingham, dan London, untungnya tak ada dari Edinburgh.

Masalah mabuk ini sudah menjadi kejadian dan masalah rutin setiap tahun. Saya bahkan pernah melihat ada peringatan khusus dari polisi yang tulisannya kira-kira begini “Jangan mabok di malam tahun baru, kalau nggak mau nyesel, kamu gak bisa lihat kembang api hanya karena nggak kuat berdiri karena kebanyakan minum”.

Pesta Kembang Api

Meski “beresiko” tapi perayaan malam tahun baru akan diobati dengan pesta kembang api yang berpusat di Edinburgh Castle. Kami sempat bercanda, semoga kembang apinya lebih bagus dari kembang api anak kompleks di Jakarta. Satu setengah jam sebelum acara berlangsung, saya berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia dari seluruh UK, pas didepan patung penunggang kuda princess street. Inilah salah satu spot terbaik dari princess street karena tidak dihalangi pohon dan gedung. Spot ini juga menjadi lokasi tim dokumentasi acara Hogmanay. Saya bagikan videonya, yang berisi awal dan akhirnya saja, sisanya saya nikmati sendiri, hehehe, total durasi kembang apinya sekitar 5 menit:

 

Salam dari Edinburgh

Baca Juga :

Mengenal Edinburgh

Torchlight Procession di Edinburgh

Pawai Puluhan Ribu Obor Menandai di Mulainya Hogmanay, Tahun Baru Ala Scotland

Scotland punya nama sendiri untuk memperingati tahun baru, mereka menyebutnya Hogmanay. Ada yang menyebutkan bahwa kata ini diambil dari bahasa perancis tapi ada juga yang mengatakan bahwa hogmanay berasal dari bangsa viking di Scotland.

Edinburgh adalah salah satu, pusat perayaan tahun baru dunia. Para wisatawan internasional maupun di UK sendiri berbondong-bondong datang ke Edinburgh untuk menikmati pergantian tahun. Mengawali perayaan tahun baru 2014, Kota Edinburgh memulainya satu hari sebelumnya dengan pawai obor keliling Edinburgh, sejauh kurang lebih 3 km dari George IV Bridge menuju ke Calton Hill dilaksanakan tanggal 30 Desember 2013.

Obor bisa didapatkan dengan membeli melalui online ataupun dijual on the spot, yang penjualannya ditutup beberapa jam sebelum pelaksanaan pawai. Tak ada obor bikinan sendiri, karena bisa membahayakan peserta lainnya. Pawai dimulai jam 7 malam. Cuaca cerah sebelum pawai, padahal sebelumnya sepanjang hari, hujan mengguyur Kota Edinburgh. Puluhan ribu orang berkumpul dengan tertib di George IV Bridge. Beberapa orang yang berada di luar lintasan, diusir oleh petugas untuk memulai kembali dari belakang, yang bagusnya, dalam kumpulan massa yang banyak yang sudah berada didepan terebut MAU mengikuti arahan petugas dan tak ada yang langsung menyela barisan yang sudah ada.

Torchlight Procession Edinburgh
Petugas mengarahkan peserta pawai mengosongkan area samping
Torchlight Procession Edinburgh
Penyalaan di mulai oleh Steward
Torchlight Procession Edinburgh
Berbagi Api
Torchlight Procession Edinburgh
Suasana Pawai
Torchlight Procession Edinburgh-Mound
Mound
Torchlight Procession Edinburgh-Old People
Pakaian “Anti Api”
Torchlight Procession Edinburgh-National Gallery
Samping National Gallery
Torchlight Procession Edinburgh-Big Weel
Princess Street
Torchlight Procession Edinburgh-Viking
Ibu Ibu Viking
Torchlight Procession Edinburgh-Calton Hill
Kembang Api di Calton Hill di mulai
Torchlight Procession Edinburgh-Calton Hill
Kembang Api dari Calton Hill
Torchlight Procession Edinburgh-Waterloo
Torchlight Procession Edinburgh-Waterloo

Pawai obor dan kembang api selesai sekitar Pukul 21.30, orang-orang pulang, bersiap menyambut tahun baru yang sebenarnya di malam tanggal 31 Desember.

Salam dari Edinburgh,

Pelajar Indonesia-PPI Edinburgh UK
Salam dari Edinburgh
The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started